Rabu, 31 Juli 2013

kisah sementara merantau kota salatiga

Alkisah di suatu desa di jauh dari keramaian dan  kilometer jauhnya dari ibukota tinggalah seorang perantau yang sedang mengemis ilmu di kota kecil bernama salatiga. Sedari kecil si perantau ini sangatlah ingin mempunyai cita cita yang berguna bagi setiap orang, tapi karena keadaan kapitalis yang ada di kota sangat memprehatinkan, dikarenakan kehidupan yang serba hitam maka terpengaruhlah pemikiran yang dari polos tersebut berubah total. setelah melewati beberapa rintangan selama bertaun taun maka cita cita yang semula sudah terlupakan,tetapi dari situ lah bisa mengambil hikmah dari pengalaman yang sudah didapat,tidak perlu di tangisi ataupun disesali.cita-cita atau tujuan hidup ini hanya bisa diraih jika anda memiliki motivasi yang kuat dalam diri anda. Tanpa motivasi apapun, sulit sekali anda menggapai apa yang anda cita-citakan. Tapi tak dapat dipungkiri, memang cukup sulit membangun motivasi di dalam diri sendiri. Bahkan mungkin anda tidak tahu pasti bagaimana cara membangun motivasi di dalam diri sendiri. Padahal sesungguhnya banyak hal yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan motivasi tersebut.beginilah saya menemukan pemikiran setelah saya selesai kuliah tahun 2013 bulan juli tanggal 15.

Setelah berjalanya waktu,akupun mulai sadar, sekarang ini fikiran aku hanya tertuju kepada kedua orang tua bagai mana membahagiakan mereka beserta adikku. dahulu bagai mana susahnya orang tuaku membiayai q sampai kesana kemari supaya q bisa sekolah.dan setelah selesai sekolahpun saya masih banyak merepotkan orang tua sampai sampai keluarga pun menjadi risi akan diriku, mulai sekarang saya akan bekerja keras supaya keluarga q tidak dipandang sebelah mata oleh orang lain, q percaya tuhan maha mengetahui dan penyayang umat, dan tidak akan menguji umatnya dari luar batas kemampuan kita, terimakasih tuhan telah mengajarkan hidup kepadaku,serta pengalaman yang begitu indah buat q jalani.

Demikian sedikit curhatan dariku,buat teman teman semoga gak ada yang seperti q,mari kita bahagiakan orang tua kita yang sudah merawat kita dari kecil......thanks

By.banhouz.
Sekitar tahun 60an Houtman memulai karirnya sebagai perantau, berangkat dari desa ke jalanan Ibukota. Merantau dari kampung dengan penuh impian dan harapan, Houtman remaja berangkat ke Jakarta. Di Jakarta ternyata Houtman harus menerima kenyataan bahwa kehidupan ibukota ternyata sangat keras dan tidak mudah. Tidak ada pilihan bagi seorang lulusan SMA di Jakarta, pekerjaan tidak mudah diperoleh. Houtman pun memilih bertahan hidup dengan profesi sebagai pedagang asongan, dari jalan raya ke kolong jembatan kemudian ke lampu merah menjajakan dagangannya. - See more at: http://bagindaery.blogspot.com/2013/03/inilah-kisah-nyata-seorang-ob-yang.html#sthash.MY7XsXO0.dpuf
Sekitar tahun 60an Houtman memulai karirnya sebagai perantau, berangkat dari desa ke jalanan Ibukota. Merantau dari kampung dengan penuh impian dan harapan, Houtman remaja berangkat ke Jakarta. Di Jakarta ternyata Houtman harus menerima kenyataan bahwa kehidupan ibukota ternyata sangat keras dan tidak mudah. Tidak ada pilihan bagi seorang lulusan SMA di Jakarta, pekerjaan tidak mudah diperoleh. Houtman pun memilih bertahan hidup dengan profesi sebagai pedagang asongan, dari jalan raya ke kolong jembatan kemudian ke lampu merah menjajakan dagangannya. - See more at: http://bagindaery.blogspot.com/2013/03/inilah-kisah-nyata-seorang-ob-yang.html#sthash.MY7XsXO0.dpuf
Sekitar tahun 60an Houtman memulai karirnya sebagai perantau, berangkat dari desa ke jalanan Ibukota. Merantau dari kampung dengan penuh impian dan harapan, Houtman remaja berangkat ke Jakarta. Di Jakarta ternyata Houtman harus menerima kenyataan bahwa kehidupan ibukota ternyata sangat keras dan tidak mudah. Tidak ada pilihan bagi seorang lulusan SMA di Jakarta, pekerjaan tidak mudah diperoleh. Houtman pun memilih bertahan hidup dengan profesi sebagai pedagang asongan, dari jalan raya ke kolong jembatan kemudian ke lampu merah menjajakan dagangannya. - See more at: http://bagindaery.blogspot.com/2013/03/inilah-kisah-nyata-seorang-ob-yang.html#sthash.MY7XsXO0.dpuf
Sekitar tahun 60an Houtman memulai karirnya sebagai perantau, berangkat dari desa ke jalanan Ibukota. Merantau dari kampung dengan penuh impian dan harapan, Houtman remaja berangkat ke Jakarta. Di Jakarta ternyata Houtman harus menerima kenyataan bahwa kehidupan ibukota ternyata sangat keras dan tidak mudah. Tidak ada pilihan bagi seorang lulusan SMA di Jakarta, pekerjaan tidak mudah diperoleh. Houtman pun memilih bertahan hidup dengan profesi sebagai pedagang asongan, dari jalan raya ke kolong jembatan kemudian ke lampu merah menjajakan dagangannya. - See more at: http://bagindaery.blogspot.com/2013/03/inilah-kisah-nyata-seorang-ob-yang.html#sthash.MY7XsXO0.dpuf

Tidak ada komentar:

Posting Komentar